© 2017 by Anestesiologi FKUI - RSCM

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Google+ Icon

Gedung A Medical Staff Lantai 6 Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo | Jl. Diponegoro no. 71 Jakarta Pusat 10430

Tel: +6221-314 3736/3148865/3912526

Pendidikan dokter spesialis anestesiologi pertama di Indonesia dimulai di Jakarta, yaitu di RSCM (dahulu RSTM, RS Tjipto Mangoenkoesoemo). Tahun 1953 dr. Mochammad Kelan (seorang dokter asisten bedah) kembali dari Amerika untuk mempelajari ilmu anestesia. Dimulailah era anestesia modern di Indonesia yang saat itu masih dilakukan di bawah Bagian Bedah RSCM. Dengan kemajuan ilmu bedah, keberadaan keahlian anestesia semakin dirasa perlu. Di sisi lain, kemajuan dalam ilmu anestesia sendiri berjalan pesat dan tidak berhubungan langsung dengan ilmu bedah. Kesadaran akan berdirinya anestesiologi tersendiri semakin menguat.

 

Sebagai orang pertama yang merintis dan mengaplikasikan anestesiologi di Indonesia, dr. Kelan mulai melatih dokter-dokter muda untuk melakukan pembiusan. Hingga masa itu, fungsi pelayanan dan pendidikan anestesiologi hanya dijalankan oleh dr. Kelan dibantu dr. Oentoeng Kertodisono dan dr. Muhardi Muhiman. Ketiga tokoh inilah yang patut disebut sebagai “The Founding Fathers of Anesthesiology” di Indonesia.

 

Tahun 1967 Anestesiologi resmi berdiri sendiri, terpisah dari Bagian Bedah. Pendidikan resmi anestesiologi di Indonesia pun dimulai. Pendidikan ini mulai banyak diminati sekitar tahun 1970. Dokter-dokter spesialis anestesiologi yang dihasilkan program pendidikan ini kemudian menyebar dan memulai profesi anestesia di berbagai daerah di Indonesia. Sejak berdirinya, Bagian Anestesiologi yang kemudian menjadi Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM selalu menjadi pelopor di Indonesia. Di sini juga dimulai dan dikembangkan ilmu anestesia regional, yang pertama kali diperkenalkan oleh dr. Oentoeng Kertodisono.   Bagian Anestesiologi FKUI/RSCM bukan hanya mengembangkan ilmu anestesia dalam arti sempit (pembiusan) namun lebih jauh lagi, mencakup penguasaan critical care medicine. Atas prakarsa dr. Muhardi Muhiman, tahun 1971 resmi berdiri Intensive Care Unit (ICU) RSCM yang menunjang salah satu kompetensi dokter spesialis anestesiologi dalam critical care medicine di atas. Ini adalah ICU pertama di Indonesia. Staf Bagian Anestesiologi FKUI/RSCM jugalah yang pertama kali memprakarsai, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu Resusitasi Jantung Paru (Cardiopulmonary Resuscitation/CPR) di Indonesia, yaitu dr. Sun Sunatrio, dibantu dr. Yani Kasim dan dr. Jusrafli Junurham.

 

Tahun 1973 dr. Moch. Kelan dikukuhkan sebagai Guru Besar Anestesiologi yang pertama di Indonesia. Profesor dr. Mochammad Kelan Koesoemodipoero, atas prakarsa, jerih payah dan kegigihannya mengembangkan ilmu anestesia, patut disebut sebagai “Bapak Anestesiologi Indonesia”, yang memungkinkan anestesiologi berkembang di Indonesia hingga kini.

 

Saat ini cakupan pelayanan anestesia telah sangat luas. Di samping anestesia umum, anestesia regional berkembang pesat melampaui ekspektasi, ilmu critical care medicine yang mencakup emergency medicine dan intensive care medicine telah terbukti sangat dibutuhkan masyarakat. Rumah sakit hingga di pelosok daerah meningkatkan kemampuan hingga dapat melayani pembedahan dan perawatan intensif. Keberadaan dokter spesialis anestesiologi, yang dulu tidak dianggap “empat bagian besar”, kini tidak dipungkiri merupakan kebutuhan penting di rumah sakit. Pendidikan dokter spesialis anestesiologi dengan demikian harus ditingkatkan untuk dapat menjamin kecukupan tersedianya tenaga ahli ini di seluruh Indonesia. Sebagai satu-satunya program studi yang mengajarkan ilmu critical care terintegrasi dalam semua materi pengajarannya, Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia menetapkan secara resmi nama program studi menjadi “Anestesiologi dan Terapi Intensif” di seluruh Indonesia.

SEJARAH PROGRAM STUDI ANESTESIOLOGI